Rabu, 31 Juli 2013

PENGAMPUNAN (Matius 18 : 21-35)

Injil Matius pasal 18 berisi hukum-hukum praktis tentang hidup jemaat. Bagaimana seharusnya jemaat bersikap dan memperlakukan sesama seiman. Roh Kudus menuntun Matius untuk mengumpulkan ucapan–ucapan (pengajaran) Yesus di berbagai tempat dan kesempatan lalu menyusunnya menjadi satu rangkaian pengajaran yang berfokus pada kehidupan jemaat yang dikehendaki Tuhan. Jika kita memperhatikan setting dari pengajaran yang disusun Matius di sini, alur pemikirannya adalah berhubungan dengan pengampunan. Inti atau konsep kebenaran dari Yesus yang terdapat disini adalah :


1. Kebesaran sesorang dalam Kerajaan Allah berbeda dengan kebesaran dalam dunia ini (ayat. 1-5).
Orang besar bagi Allah ditentukan oleh sikap hati seseorang,  yakni kerendahan hati dan ketergantungannya pada Tuhan.
Untuk membuat kebenaran ini hidup dan dipahami dengan mudah oleh pendengar-Nya, Yesus mengambil contoh seorang anak kecil (Yun, paidion, seorang anak di bawah umur 8 tahun). Perlu diketahui, bahwa issue “terbesar” dalam masyarakat Yahudi sangat penting. Mereka ketat dengan ukuran strata sosial. Mereka membedakan pandai dan bodoh, kaya dan miskin, tuan dan budak. Dalam acara-acara Yahudi tempat duduk diatur berdasarkan posisi yang terbesar. Itulah sebabnya Yesus berkata, kalau engkau diundang ke pesta jangan duduk di depan nanti datang orang yang lebih dari anda, akhirnya anda diminta duduk di belakang. Karena issue “terbesar”, berpengaruh bagi orang Yahudi, murid-murid Yesuspun berdebat “siapa yang terbesar di antara mereka” (Mark 9:34).


2. Penyesatan (Yun, skandalon) atau kesalahan pasti ada, tidak dapat dihindari (ayat 6-11).
Tapi kita semua diminta agar tidak menjadi penyebab dari orang berbuat salah. Kita dinasehati agar jangan mendatangkan kesalahan, kesesatan  “menganggap rendah seorang dari anak kecil.” Kata “anak kecil’ di ayat 6, 10, 14, (Yunani = mikroi”) berarti orang kecil, orang dewasa yang dianggap kecil karena miskin, bodoh. NIV menterjemahkan “little ones”. Tuhan Yesus mengatakan, orang kecil itu punya malaekat penjaga yang selalu menghadap Tuhan. Biasanya hanya orang penting saja (punya jabatan khusus) yang punya akses menghadap raja. Mungkin saja malaikat penjaga orang kecil adalah malikat yang punya kedudukan penting dalam surga. Jadi hati-hati, jangan menghina orang kecil.


3. Hati Bapa adalah hati yang merangkul, mencari dan menyelamatkan yang terhilang, tersesat atau salah jalan (ayat. 12-14).
Bapa di surga tidak menghendaki satu jiwa terhilang, sekalipun dia seorang yamg kecil menurut anggapan dunia. Tugas kita adalah tugas penyelamatan siapapun dan bagaimanapun buruknya seseorang, kita harus punya hati Bapa Surgawi. Setiap jiwa sama nilainya bagi Tuhan, baginya Kristus telah mati. Jangan berbuat dosa mengabaikan pelayanan kepada orang kecil atau arogan secara rohani. Tuhan memanggil kita bukan untuk mengkritisi, menilai, menghakimi, mempersalahkan orang yang bersalah melainkan menyelamatkannya. Tuhan mengajar kita agar yang lebih mulia mau memberi dan membagi kemuliaan pada yang kurang mulia. 1 Kor 12 : 21-26. baca.


4. Yesus mengajar kita bersikap persuasif dan konstruktif terhadap orang yang bersalah (ayat 14-20).
Bagaimanapun pendekatan itu, bergantung kepada sikap hati anda (ay. 3-5 ).  Karena anda punya otoritas “mengikat” dan “melepaskan”. Menarik untuk memperhatikan kata “pengampunan, mengampuni” dalam Alkitab berasal dari kata Yunani, “Aphiemi” (Ingg. Forgiveness),  berarti melepas (tali) ikatan, membiarkan pergi, membiarkan pergi bebas. Jadi sekalipun ada pendekatan formal 1,2,3 namun pendekatan formal tersebut bukanlah batasan. Perhatikan kata Yesus: jika ia tidak mau mendengarkan, “pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai, alias belum bertobat. Jadi tugas kita melayani dan membuat ia bertobat bukan membuang atau menyisihkannya.

Pertanyaan Petrus dan jawaban Yesus yang disertai dengan perumpaan, memperjelas dan memberikan penegasan tentang keberanan-kebenaran yang diajarkan di atas, yakni, prinsip pengampunan tanpa batas.  Pengampunan tidak diukur dari besar, luas, dalam, lebar dan beratnya kesalahan seseorang. Pengampunan melampaui segala-galanya. Petrus mengajukan pertanyaan pada Yesus, mungkin Petrus terpikir dengan pernyataan Yesus dalam Luk 17:4 dan ia ingin mendapat penegasan kembali. Tetapi  jawaban Yesus diluar dugaan : 70 x 7 = 490. Wow, mungkinkah ada orang yang berbuat salah sebanyak ini dalam sehari (kalau konteksnya Luk 17:4) ? Untuk meredahkan ketegangan Petrus, Yesus menceritakan sebuah kisah tentang seorang Raja dengan hambanya yang berhutang 10 ribu talenta. Satu talenta sama dengan 6000 dinar. Satu dinar adalah upah sehari waktu itu. Kalau sekarang upah pekerja Rp 25.000 / hari maka 1 talenta sama dengan  Rp. 150 juta. 10.000 X 150.000.000 = Rp ………. hitung sendiri ..........

Perumpamaan Yesus memberikan pesan penting tentang pengampunan dan mengampuni. Kita mempunyai Raja yang punya belas kasihan yang besar. Betapun besarnya kesalahan kita, kalau kita datang dan mengaku pada-Nya pasti kita menerima pengampuanNya. Seperti hamba yang berhutang 10.000 talenta. Namun ada kisah sedih dalam perumpaan ini. Orang yang berhutang besar setelah mendapat pengampunan bertemu dengan “hamba lain” yang berhutang kepadanya hanya 100 dinar namun justru ditangkap dan dipenjarakannya tanpa belas kasihan. Raja mengetahuinya dan menganggap ini kejahatan besar ….. Perhatikan apa kata Raja: “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?”  Yesus adalah Raja dalam perumpamaan ini. Seluruh hidup Yesus menyatakan belas kasihan kepada orang berdosa. Dia datang mengumumkan kemurahan hati Bapa yang mengampuni dosa dan kesalahan manusia. “Maz. 103:12: “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” Yesus datang memberikan pengampunan bagi yang berdosa.

Orang membawa kepada-Nya perempuan yang berdosa minta supaya dilontar dengan batu. Yesus menjawab, siapa di antara kalian yang tidak  berbuat dosa silahkan melempari wanita ini. Tak seorangpun yang berani sebab semua berbuat dosa. Yesus pun mengampuni wanita ini. Tujuan Yesus datang di dunia ini mencari dan menyelamatkan yang sesat bukan untuk menghukum. Dia datang mengadakan pendamaian atas dosa-dosa manusia, Dia menyerahkan diri-Nya serta mencurahkan darah-Nya untuk menebus, menanggung dosa manusia. Dan setelah bangkit dari antara orang mati, Dia mempercayakan tugas penting bagi murid-murid-Nya untuk memberitakan kabar pengampunan di dalam nama-Nya (Luk 24:47). Yesus menegaskan, untuk menjadi murid-Nya kita harus memiliki hati Bapa, hati Kristus. Bersedia mengampuni setiap orang (Mat. 18:25). Kita diselamatkan dan diutus bukan untuk mempersalahkan yang salah, menghukum, membuang, menyisihkan yang bersalah tetapi mencari, menyelamatkan dan memberikan pengampunan bagi mereka. Jadikan pengampunan dan mengampuni sebagai misi anda! Itu adalah amanat Kristus. Milikilah hati Kristus, hati yang mengampuni: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Demikian doa Yesus di salib. Yesus mengajar murid-muridNya berdoa ...ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah pada kami...” (Mat. 6:12; baca Markus 11 :25,26). Akhirnya, Yakobus 5 :19,20 berkata : “Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa”.






Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar