Kamis, 18 Juli 2013

KESATUAN (Efesus 4:1-6)


Kitab Efesus terdiri atas doktrin (1-3) dan praktis (4-6). Dalam bagian doktrin, Tuhan menyatakan bagaimana berkat-berkat, keuntungan-keuntungan, kekayaan-kekayaan serta kemuliaan yang diterima dan dimiliki  oleh orang percaya (gereja) di dalam Kristus. Kata “sebab itu” (4:1) menghubungkan bagian doktrin dengan praktis. Seolah-olah Tuhan berkata : Kamu adalah hartawan rohani, sebab itu bertingkahlah sebagai hartawan rohani. Kamu adalah orang kaya raya, sebab itu bertindaklah sebagai orang kaya. Kamu adalah orang besar, bertindaklan sebagai orang besar. Kamu adalah oang istimewa, bertindaklah sebagai orang yang istimewa.”
Kata “berpadanan” (4:1) berarti punya nilai, bobot yang sama, seimbang dengan keberadaan kita sebagai anak Tuhan. Jerry Autrey berkata : “Dalam hidup Kristen, kepercayaan dan kelakuan, pengakuan iman dan tingkah laku , ajaran dan praktek, jabatan dan prestasi, wahyu dan tanggapan, akan dan buah, kedudukan dan keadaan harus seimbang.” Iman harus dijabarkan  dalam hubungan nyata antara: 1. Sesama se-iman. 2. Sesama manusia. 3. Hidup RT (suami-istri-anak). 4. Pekerjaan (pekerja & majikan). 5. Gembala Hamba Tuhan (gembala sidang).

Di sini fokus saya pada hubungan iman antar sesama se-iman sebagai keluarga Kerajaan Allah. Penjabaran iman dalam praktek kehidupan menghasilkan “kesatuan” umat Tuhan. Dan jika melihat secara keseluruhan isi psl 4-6, maka membangun dan memelihara kesatuan dalam hubungan dengan sesama seiman sebagai “tubuh Kristus”, gereja yang universal (invisible church) maupun gereja sebagai unit orang percaya (gereja lokal) adalah peperangan rohani. Artinya tidak mudah untuk membangun dan mempertahankan kesatuan.
Kata “karena itu” (6:11) menyatakan bahwa kesatuan dan persatuan hanya dimungkinkan kalau kita semua kuat dalam Tuhan dan mengenakan senjata-senjata rohani. Doa Yesus supaya semua umat-Nya menjadi satu masih merupakan harapan dan impian gereja yang belum terwujud. Dan memerlukan perjuangan yang berat untuk merealisasikannya. Kita harus

mewujudkan doa Yesus mulai dari gereja sebagai unit orang percaya (jemaat lokal). Setan adalah musuh gereja tidak ingin umat Tuhan bersatu, hidup rukun sebagaimana kehendak Kristus.
         Ada 2 hal tentang kesatuan dalam teks kita : Pertama, kesatuan adalah pekerjaan Roh Kudus. Kedua, memelihara kesatuan adalah tanggung jawab kita sebagai anggota keluarga Allah. Sebenarnya panggilan kita berfokus pada pembangunan hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan dengan Tuhan menghasilkan pertumbuhan rohani : 1. Mengenal Kristus dengan benar. 2. Kedewasaan rohani (pria tulen) - partisip Yunani yang diterjemahkan: “diombang-ambingkan” menunjuk orang percaya ibarat perahu yang digempur gelombang yang sedang murka (ganas). 3. Dipenuhi dengan kepenuhan Allah. 4. Menjadi satu dengan Kristus (kita berkata: hidupku bukannya aku lagi ... ). 5. Pelayanan yang benar (4:7-16). Firman Allah mengharuskan kita untuk hidup bersatu, memelihara dan mempertahankan kesatuan.

I.      Dasar dari Persatuan Kita
Perhatikan pernyataan-pernyataan Firman Allah, “Satu tubuh” - semua orang percaya adalah satu tubuh dalam Kristus. “Satu Roh” - yang mendiami, memenuhi dan memeteraikan orang percaya. “Satu pengharapan” - keselamatan yang abadi, surga tempat orang percaya. “Satu Tuhan” - Tuhan Yesus Kristus Juruselamat yang mati dan bangkit. “Satu iman” - kepercayaan, ajaran yaitu Firman Allah. “Satu baptisan” - yaitu baptisan Roh dan air dalam nama Tuhan Yesus Kristus. “Satu Allah dan Bapa dari semua” - :
ÿ “Yang di atas semua” - Ia memerintah semua umat Tuhan
ÿ “Oleh semua” - Ia bekerja melalui semua orang percaya
ÿ “Di dalam semua” - Ia mendiami semua orang percaya
Semua ini adalah karya Roh Kudus bagi anda dan saya sebagai umat-Nya. Jadi mengabaikan “Persatuan” sama dengan menghancurkan karya Roh Kudus dan merupakan pemberontakan, pengkhianatan terhadap karya Roh Kudus yang luar biasa bagi gereja. Pada hakekatnya, anda bukanlah anak Tuhan atau orang Kristen yang sejati jika anda tidak punya kesatuan dengan sesama seiman.

II.     Wujud Kesatuan Rohani dalam Bentuk Lahiriah (Ay. 2)
Saya merumuskan wujud kesatuan ini sebagai :
         1. Sikap hati yang benar
“Selalu rendah hati” lawan dari kesombongan (sikap hati). “Lemah lembut” - mudah dibentuk, sifat ini menyebabkan kita tidak membalas kalau kita diperlakukan tidak adil, “kesabaran yang ditantang”. “Sabar” (panjang sabar; Ingg: “Longsuffering” - tidak mendendam. Sifat-sifat negatif seperti :kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, semua bentuk kejahatan harus dibuang (ay 32), harus diganti dengan keramahan kepada sesama, penuh kasih mesra dan saling mengampuni dan jangan membiarkan kemarahan sampai matahari terbenam (ay 26). Ikatan damai sejahtera harus dipertahankan (ay 3) dengan menjaga sikap hati kita.
         2.  Kata-kata
Kata-kata adalah racun bagi kesatuan! “Berkatalah benar” jangan berdusta (ay 25). Dusta tidak pernah dibenarkan. Dusta tidak jujur, membohongi diri sendiri dan merugikan orang lain. Dusta adalah karakter iblis. “Perkataan kotor” - percakapan yang tidak sopan, keji dan jorok. “Perkataan kosong” - percakapan yang bodoh, gosip, tidak benar. “Perkataan semberono” - jenaka, cabul yang menimbulkan hawa nafsu (5:3-5)
        3.  Saling membantu (4:4)
Karena setiap anggota diberi karunia yang berbeda untuk kepentingan
bersama (a:7). Diberi “kadar pekerjaan masing-masing,” untuk membangun dalam kasih (4:16).
        4.  Kebersamaan memuji dan menyembah Tuhan dengan girang (5:19-20).
Dengan memuji Tuhan bersama kita saling meneguhkan, menguatkan, menghibur satu dengan yang lain.
Marilah kita wujudkan kesatuan sebagaimana kehendak Kristus dalam hidup kita berjemaat. Saling mengasihi, saling menghormati, saling menghargai, saling memperhatikan. Saling mendoakan, saling membantu, saling mengampuni dan saling merendahkan diri. Dengan demikian orang akan mengenal kita sebagai murid2 Tuhan Yesus Kristus.



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar